7 Mental Baja Yang Akan Memenangkan Era Disruption Bisnis Milenial Saat ini

By Gustyana

digital-disruption-is-here

Persaingan bisnis yang terus bergulat dengan adanya persaingan yang tidak nampak dari para bisnis startup saat ini sangat bersifat Chaoz, dan bisa kita bilang bahwa persaingan bisnis saat ini amat sangat tidak nampak, yang mana partner bisnis kita, dan mana yang merupakan pesaing bisnis kita.

Dengan keadaan ini bisa dikatakan, dengan persaingan yang tidak nampak, incumbent bisnis yang dahulu sangat berjaya namun saat ini, bisa tiba – tiba bangkrut dan digilas oleh pesaing yang melesat seperti angin badai yang tetiba merobek sendi – sendi bisnis incumbent, selamat datang pada era disruption sekarang ini. Dimana para regulator pun saat ini sangat bingung melihat fenomena ini dikarenakan perkembangan era sosial media dimana menumbuhkan budaya sharing ekonomi, sharing resource, kolaborasi (apa yang tidak kita miliki, kemudian kita bisa berkolaborasi untuk saling menciptakan pasar yang incumbent tidak pernah layani, segmen pasar menengah ke bawah, kaum para marginal yang selama ini tidak pernah terjamah oleh para bisnis incumbent )

Bayangkan jika Anda bekerja di Krakatau steel yang sudah menanggung beban biaya investasi yang amat besar, dan tiba – tiba harus berhadapan dengan pabrik kecil (minimalis) yang portable dan tak memerlukan skala usaha besar nan lengkap. Anda juga bisa melihat kemunduran pabrik-pabrik es yang dulu begitu berjaya, sekarang dikalahkan oleh pemakaian lemari es skala dapur rumah Anda.

Munculnya internet telah membuat biaya – biaya tertentu menjadi turun, menimbulkan dampak kolaboratif yang amat besar, dan mengurangi biaya – biaya tetap. Usaha baru yang efisien, bahkan tak memerlukan tempat, gudang, ongkos produksi, sangat dimungkinkan dengan melakukan sharing resource. Karena era saat ini telah beralih kepada menjadi pelanggan yang mobile dan dikunjungi secara online.

Kita bahas satu – persatu alasan mengapa para incumbent bisnis ini bisa terkapar mati digilas dengan para startup yang baru saja berdiri dan umurnya pun masih seumur jagung ;

a. Kita bisa belajar dari kodak dan fujifilm yang mereka masih mempertahankan bisnis model mereka yang jadul, dan mereka masih merasa bahwa bisnis model mereka masih sesuai dengan perkembangan jaman, namun kita lihat betapa fujifilm berani untuk mengkanibal business model mereka dan menyesuaikan business model mereka dengan perubahan jaman sehingga perusahaan merekapun banyak sekali ide mengenai inovasi, riset, dan pengembangan produk, dan saya rasa mereka mampu untuk menyesuaikan bisnis model mereka dengan tuntutan jaman.

b. Pengambilan keputusan yang sangat lambat
Proses pengambilan keputusan terlalu berbeli – belit, diambil oleh mereka yang takut menghadapi resiko, terlalu hati – hati, dan selalu terlambat. Padahal pada kenyataannya, teknologi bergerak begitu cepat, sedangkan pendekatan yang dilakukan oleh para incumbent rata – rata masih kuno.

c. Sudah nyaman dengan model bisnis yang ada
Banyak rata – rata bisnis incumbent adalah rasa puas. Mereka sudah nyaman dengan model bisnis yang telah lama mereka tekuni tetapi tidak menyadari bahwa merupakan perangkap. Management Inertia yakni : ketika suatu organisasi gagal merasakan adanya kebutuhan untuk berubah.

d. Margin yang lebih rendah saat transisi
Perpindahan bisnis dari yang sebelumnya tradisional menjadi berbasis digital memang berisiko, apalagi jika sebelumnya perusahaan sudah mendapatkan keuntungan besar dari bisnis lawas. Mencoba masuk ke ranah digital menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan, Ini adalah persoalan values, mindset, atau cara menetapkan kriteria.

e. Sumber daya yang dialokasikan tidak selaras dengan kesempatan masih banyak organisasi yang mengikat ”manusianya berdasarkan divisi, produk, ataupun unit bisnis. Organisasi tersebut tidak melihat bahwa dengan pesatnya digital disruptions, terjadi perubahan – perubahan dalam penempatan tenaga manusia.

Era disruption ini menciptakan pasar menengah kebawah yang tadinya acap tidak tersentuh menjadikan terciptanya pasar low-end ini semula mereka pada kelas ini hanya sebagai penonton belaka yang konsumsinya amat beragam;
1. Mereka bisa terdiri atas pasar yang sebelumnya tidak mempunya daya beli karena produk atau jasa yang ditawarkan dianggap sebuah kemewahan, sedangkan harga penawaran produk atau jasa yang ada masih mahal.
2. Mereka bisa terdiri atas konsumen yang hanya sesekali membeli karena ada diskon khusus,atau karena saat mereka mendapatkan bonus.
3.Mereka juga bisa terdiri atas pelanggan-pelanggan muda yang baru mulai belajar konsumsi, belajar menjadi konsumen aktif dengan produk atau jasa yang lebih sederhana, mudah dijangkau,dan lebih murah.

Dengan adanya teknologi baru, kalangan low-end segmentasi ini pun dapat dibentuk menjadi pemula dalam bisnis-bisnis baru.
Pada dasarnya saat ini kita harus memiliki mindset kecepatan exponensial untuk menjawab kebutuhan pelanggan yang ingin dijawab 1X24 jam, berikut adalah mental bagaimana membangun mindset untuk menjawab tantangan-tantangan ini;
a. Anda merasa bahwa bekerja itu terikat tempat dan waktu oleh karena itu di luar jam dan tempat kerja Anda menolak melayani dan meminta orang lain bersabar menunggu, kalau Anda memiliki mental birokrasi seperti ini siap – siap Anda akan ditinggalkan oleh pelanggan, ini tentu berbeda dengan mereka yang ber- mindset korporat yang sadar betul bahwa teknologi informasi telah membuat jarak dan waktu mati. Manusia bisa terhubung 24 jam sehari, 7 hari seminggu, tanpa terikat waktu dan tempat.
b. Rasa memiliki sangat kuat,namun memiliki berarti menguasai, hanya bersifat terpaku dan menunggu pelanggan, bagi orang-orang yang bermental korporat adalah dengan cara melakukan proaktif dan menjemput bola.
c. Bagi mereka yang bermental birokasi akan berpikir bagaimana caranya menunggu anggaran untuk bekerja, tapi bagi mereka yang bermental korporasi melihat uang adalah sebagai ilusi yang bisa diciptakan dari kekuatan ide,inisiatif,kepercayaan, dan reputasi. Dan mereka cenderung bahwa setiap masalah adalah peluang untuk diatasi.
d. Perhatian terhadap media sosial, bagi orang – orang yang bermental birokasi cenderung menjadikan sosial media sebagai hiburan pribadi, gaya hidup belaka, sedangkan manusia yang bermindset korporasi menangkap media sosial sebagai alat untuk menangkap aspirasi, melakukan komunikasi, alat bantu bekerja, alat untuk engagement dengan pelanggan,dan sarana untuk menyalurkan ide kreatif.
e. Manusia birokrat punya kecenderungan membuat alasan terhadap masalah yang dihadapi,sedangkan manusia korporat justru mencari solusi.
F. Perilaku manusia yang memiliki mindset birokrasi yang punya kecenderungan takut akan perubahan, karena Mereka akan berpikir sangat merepotkan dan cenderung difensif,malah memaksakan segala sesuatu yang baru agar tunduk pada peraturan yang ada.
G. Menyikapi strategi, bagi orang-orang yang bermental birokrasi bagaimana Mereka merespon sebuah strategi yang telah ditetapkan bersama, mereka cenderung menutup diri dan enggan merespon, cukup dijalankan saja dan menutup diri terhadap kreativitas.

Jadi berikut 7 mindset untuk menyikapo era disrupsi ini;
a. Bekerja tidak harus ditempat, namun bermental dimanapun dia berada bisa bekerja dengan menggunakan sosial media.
b. Orang yang bermental korporat akan bersikap terhadap merespon pasar/pelanggan.
c. Orang yang bermental korporat ide kreatif, inisiatif, memiliki kepercayaan yang tinggi dalam melakukan kreativitas dalam bekerja
d. Memaksimalkan social media untuk sarana sebagai aspirasi dalam bekerja.
e.Tidak pernah memandang sebuah permasalahan sebagai hambatan, namun selalu bermental mencari solusi terhadap permasalahan yang terjadi.
f. Menyukai perubahan, karena menyadari bahwa perubahan itu pasti terjadi.
g.Berbuat sesuatu hal pekerjaan harus menggunakan perencanaan dan strategi, namun dengan strategi tersebut wajib baginya untuk dilakukan eksekusi, tidak hanya diatas kertas belaka.

Semoga kita menyadari dan menjadikan mental diatas dalam menghadapi era yang sangat dinamis perubahannya. Dan kita diberikan kemudahan untuk melaksanakan perubahan yang positif dan memiliki mental yang positif.