Ingin Perusahaan Anda Memiliki Kompetitif, Perhatikan Pilar – Pilar Strategi Dalam Membangun Skala Gaji Yang Bersaing

By Gustyana

Print
Apabila kita sedang membahas pekerjaan pasti yang pertama sekali muncul di dalam pikiran kita adalah satu pertanyaan, dan pertanyaan tersebut akan menentukan apakah anda akan bekerja di perusahaan tersebut atau tidak. Nah pertanyaan yang sering timbul tersebut ialah berapa gaji perbulan yang akan kita dapatkan ? dan apakah gaji tersebut bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari ataupun tidak ?. Gaji memang merupakan salah satu bentuk pembayaran yang diberikan oleh pimpinan atau juga bisa disebut dengan istilah majikan kepada karyawan yang terikat dalam suatu kontrak ataupun perjanjian kerja. Selain itu, gaji juga menjadi salah satu komponen keuangan perusahaan yang harus dikelola dengan dengan baik dan benar. Karena hal ini berguna untuk kemajuan sebuah perusahaan demi mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar.

Pada umumnya, besar kecilnya gaji seorang karyawan ditentukan oleh beberapa hal seperti salah satunya jabatan karyawan yang di pegangnya. Perusahaan memang tidak akan begitu saja menetapkan besaran gaji karyawannya. Biasanya perusahaan bisa menetapkan gaji karyawannya jika telah diukur dan memberikan beberapa metode perhitungan serta faktor yang dapat menggambarkan prinsip penggajian yang adil dan konsisten dalam hal pelaksanaannya.
Struktur gaji karyawan diperusahaan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti berikut ini :
1. Kinerja karyawan : besar kecilnya gaji memang berbanding lurus dengan kinerja yang dapat karyawan berikan untuk perusahaannya. Apabila beban pekerjaan yang dipikul oleh karyawan tersebut sangat sulit dan beresiko maka perusahaan harus memberikan imbalan ataupun gaji yang pantas untuk ia terima.
2. Prestasi karyawan : apabila ada karyawan yang bisa memperlihatkan prestasi gemilang untuk perusahaan maka perusahaan tersebut harus memberikan bonus di samping gaji yang akan ia terima. Bonus yang diberikan tersebut merupakan penyemangat untuk karyawan tersebut agar ia bisa terus berprestasi.
3. Tingkat jabatan (manajerial atau non manajerial) : biasanya gaji yang diberikan oleh perusahaan untuk karyawannya berbeda-beda dan sesuai dengan tingkat jabatan yang dipegangnya di perusahaan tersebut.
4. Regulasi : aturan yang ditetapkan oleh perusahaan memang harus dipatuhi dan ditaati. Selain itu, jika ada karyawan yang selalu menaati peraturan tersebut sebaiknya diberi bonus agar ia bisa selalu taat akan peraturan yang dibuat perusahaan.

Struktur gaji karyawan di perusahaan memang sangatlah penting untuk diketahui, apalagi bagi anda yang bekerja sebagai pengelola di bidang Sumber Daya Manusia (SDM) memang sangat membutuhkan beberapa landasan pemahaman yang sistematika dalam proses penyusunan penggajian dan bagaimana cara membenahi struktur penggajian jika masih dirasakan belum memenuhi prinsip-prinsip penggajian yang berupa adil, tertib dalam pengadministrasian, sederhana, akuntabel, melindungi sumber daya perusahaan dan masih banyak lagi lainnya.

Bagi anda yang belum bisa menyusun struktur gaji karyawan, sebaiknya terlebih dahulu anda harus mengikuti pelatihan strategi penyusunan struktur gaji karyawan. Karena dengan mengikuti pelatihan tersebut anda akan mampu untuk :
1. Memahami dan mengetahui bagaiman sistematika penyusunan struktur pengajian, baik itu job analisis, job evaluasi, job grading hingga dengan penyusunan struktur pengajian.
2. Memahami pentingnya job description dan job specification dalam penyusunan struktur penggajian
3. Memahami dan mengenal perbedaan tingkat jabatan manajerial dan non manajerial
4. Mengetahui bagaimana pengaruh performance appraisal di dalam kompensasi yang akan diberikan perusahaan kepada karyawannya
5. Dapat memahami non functional management

Cara Menyusun Struktur Gaji Karyawan
Meskipun sama-sama staff karyawan di sebuah perusahaan namun jika mengenai gajinya tetap akan ada perbedaan. Nah, disinilah kita perlu mengenal konsep 3P yakni pay for position, pay for person dan pay for performance. Jika pay for position ini biasanya gaji yang berikan perusahaan sesuai dengan jabatan pekerjaannya. Misalnya saja karyawan IT dengan HRD, jika dengan menggunakan konsep job value maka jabatan IT dianggap memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan jabatan HRD. Job value ini berguna sebagai nilai standar untuk bisa membandingkan bobot pekerjaan dari segala bidang yang berbeda-beda.

Setiap jabatan pekerjaan memang mempunyai bobotnya masing-masing tergantung dengan otoritas dan tanggung jawabnya. Bobot tersebut nantinya akan menentukan nilai remunerasi yang pantas untuk jabatan tersebut. beberapa jabatan pekerjaan tersebut dapat dikelompokkan sesuai tingkatan bobot yang sama. Kondisi ini juga disebut dengan grading system.

Pada umumnya banyak sekali metode menghitung job value, namun yang biasanya digunakan untuk metode perhitungan job valuenya berdasarkan tiga hal yakni seberapa banyak posisi tersebut tersedia di pasaran, seberapa besar tingkat kesulitan yang akan dihadapinya dan apa pengaruh posisi tersebut terhadap finansial atau keuangan perusahaan. Tujuan dari job value ialah untuk menentukan grading system didalam sebuah perusahan.

Selain itu, ketiga faktor tersebut juga bisa ditambahkan dengan faktor lainnya yang dianggap relevan. Bobot-bobot dari jabatan tersebut dapat dibuat menjadi angka-angka ataupun point-point yang dapat anda utak-atik dalam metode perhitungan tertentu sehingga keluar sebuah nilai atau disebut job value. Misalnya job value yang akan keluar setelah anda utak-atik ialah karyawan HRD=24, karyawan IT=30, Sales=40 dan seterusnya.

Apabila sudah keluar angka-angka ataupun point-point yang baku tersebut maka perusahaan akan lebih mudah untuk menentukan gaji karyawan sesuai dengan jabatan yang ia pegang. Cara menyusun struktur gaji ini memang sangatlah baik digunakan ataupun diterapkan didalam sebuah perusahaan. Karena dengan menggunakan metode job value ini akan membuat karyawan puas dengan gaji yang mereka peroleh dan mereka juga tidak akan bingung dengan gaji yang diberikan perusahaan. Namun sebaliknya apabila perusahaan yang menerapkan grading system tanpa adanya analisis jabatan ataupun job value yang jelas dan juga tanpa menggunakan metode yang kuat dalam melatarbekanginya. Atau dengan kata lain perusahaan tersebut hanya mengkotak-kotakkan atau mengelompokkan gaji yang ada saja. Maka jangan pernah berharap perusahaan tersebut bisa menghilangkan kebingungan dan kegalauan setiap karyawannya.

Itulah beberapa ulasan mengenai manfaat pelatihan strategi penyusunan gaji dan cara menyusun struktur gaji karyawan. Semoga apa yang telah dipaparkan diatas dapat bermanfaat dan menambah wawasan pengetahuan anda mengenai strategi pelatihan cara menyusun struktur gaji karyawan.