3 Pilar Utama Untuk Mengukir Garis Nasib Anda Agar Tidak Terpelanting Pada Kenestapaan

By Gustyana

GRATITUDE

Dalam sebuah blog terkenal strategimanajemen.net telah banyak dibahas mengenai bagaimana membuat hidup kita agar tidak terpelanting pada kenestapaan, alih -alih banyak yang protes mengenai hidupnya orang lain kok bisa memiliki karir yang bagus dengan menjadi Best Performance Sales Manajer, atau ada seorang pebisnis kuliner yang memiliki 30 cabang rumah makan yang hampir tersebar di Indonesia, padahal kalau kita lihat ‘’man behind success story of business’’ adalah hanya lulusan SMA atau SMP dan mereka memiliki kekayaan yang luar biasa di saat usia mereka masih muda.
Yuk kita lihat dua orang contoh dengan hanya lulusan ijazah SMA dan SMP tetapi mereka memiliki bisnis yang luar biasa, sebut saja orang yang pertama, anak ndeso lulusan SMP bernama Darmanto, yang kini jadi national internet expert dan berkantor dari rumahnya di desa Kranggil, Pemalang. Yang kedua, Afidz, lulusan SMP yang jadi juragan soto Lamongan dan bertekad segera mengumrohkan orang tuanya ke tanah suci.
Di sisi lain, kita acap melihat anak muda lulusan S1 bahkan S2 yang masih menganggur. Atau juga sudah bekerja namun dengan penghasilan pas-pasan. Bulan masih tanggal 9, gaji sudah habis. Pening deh kepala barby wkakakakakak…..
Banyak diantara kita yang justru memparah keadaan dengan terus mengeluh dengan keadaan kita, yang relatif tidak berubah baik dari sisi karir, spiritualistas, dan atau bisnis kita tidak kunjung merengguh pada pertumbuhan yang siginifikan, duh gusti apa ini pengaruh dari ekonomi global yang sedang tidak bagus untuk berbisnis, bisnis aku kok terus gagal, dia cenderung berfokus dan menyalahkan keadaan, dengan alasan kebijakan pemerintah yang tidak mendukung bertumbuhnya usaha kecil menengah, kurangnya modal bisnis, tidak adanya memiliki tim pemasaran yang handal, bahan baku yang relatif tidak bagus, bla..bla banyak seribu alasan; yuk mari guys kita berikan tindakan positif, maka Anda akan menerima yang positif. Berikan hal-hal dan tindakan yang negatif, maka Anda akan mendapatkan hal yang negative.
Maka, bentangkan selalu tindakan yang positif dan penuh kemuliaan : tekuni setiap pekerjaan dengan niat ibadah, hadirkan amal kebaikan kepada sesama, dan tentu saja, selalu ikhlas berbagi dan bersedekah kepada yang membutuhkan : sedekah ilmu, sedekah tenaga, dan sedekah kekayaan.
Itulah dua pilar kesuksesan hidup yang hakiki : Positive MINDSET dan Positive ACTION.
Jika yang mendominasi bayangan dan pikiran kita adalah hal-hal yang negatif – kecewa, gagal, marah, selalu menyalahkan orang lain, frustasi, ragu, merasa selalu kekurangan – maka gelombang pikiran itu akan memantul ke semesta, menarik pikiran-pikiran negatif yang serupa, dan lalu mengirim balik kepada Anda (Law Of Attraction).
Lingkaran kelam negativisme ini perlahan namun pasti akan membuat kita terpelanting dalam kisah hidup yang penuh kepiluan.
Sebaliknya, jika pikiran kita dipenuhi dengan visualisasi yang sarat dengan energi positif – tentang semangat hidup, tentang keyakinan untuk merengkuh sejumput keberhasilan, tentang kelimpah-ruahan, tentang kegairahan optimisme yang meluap, tentang ucapan syukur yang tak pernah berhenti mengalir – maka jejak kehidupan pasti akan membawa kita lebur dalam nirvana kebahagiaan yang hakiki.
Yuk kita kembali kepada bahasan kita sejenak mengenai dua orang lulusan SMA dan SMP yang justru mereka sukses dengan bisnisnya, dan banyak lulusan S1 ataupun S2 yang mereka masih saja terpelanting dengan kenestapaan tidak segera berubah nasibnya, Memang tak jarang kita melihat pemandangan yang paradoksal seperti itu : saat orang-orang yang hanya lulusan SMP bisa begitu sukses, sementara ribuan sarjana S1 dan bahkan S2 terpuruk dalam duka dan kepahitan yang mengigil. Kenapa bisa begitu?
Ada setidaknya tiga elemen kunci yang barangkali bisa menjelaskan ironi getir semacam itu.
Faktor # 1 : The Power of Kepepet
Mungkin orang-orang lulusan SMP itu bisa sangat sukses karena faktor kepepet. Justru karena kepepet, mereka sukses. Justru karena kepepet, mereka dipaksa melakukan something yang membuat mereka bisa melenting. Sederhana saja, ijasah mereka hanyalah lulusan SMP. Dengan ijasah SMP, perkerjaan bagus apa yang bisa diharapkan? Tak ada pilihan lain : jika mereka ingin mengubah nasib lebih makmur, pilihannya adalah melakukannya dengan jalan merintis usaha sendiri.
Orang dengan ijasah S1 dan S2 mungkin tidak punya faktor kepepet seperti itu : ah, santai saja toh nanti saya pasti dapat pekerjaan. Dan begitu sudah dapat pekerjaan (meski dengan gaji seadanya), tetap tidak ada “faktor yang me-mepet” dirinya : ah meski gaji segini kan saya bisa tetap hidup oke.
Pelan-pelan, perasaan semacam itu membuatnya masuk zona nyaman (comfort zone). Dan persis disitu, dan bisa menjadi mati kreativitas dalam pikiran kita.
Faktor # 2 : The Darkness of Gengsi.
Orang-orang lulusan SMP mungkin tidak lagi punya gengsi. Lhah cuman lulusan SMP, apa lagi yang mau dipamerkan. Dan kisah orang sukses lulusan SMP banyak bermula dari jalur marginal seperti itu : mulai dari jualan gerobak bakso keliling di jalanan yang berdebu hingga punya 70 cabang. Mulai dari kuli keceh sablon hingga punya pabrik kaos sendiri.
Lulusan S1 dan S2 mungkin tidak punya keberanian seperti itu. Lhah saya kan lulusan S2, masak suruh dorong gerobak soto lamongan. Lhah, masak saya harus keliling ke pasarpasar jualan kaos, kan saya sudah sekolah S1 susah-susah, bayarnya mahal lagi. Apa kata dunia?? (Dunia ndasmu le…….)
Faktor # 3 : The Magic of Street Smart.
Kerja keras di jalanan yang berdebu itu mungkin anak lulusan SMP tadi justru bisa mengenal “ilmu street smart” – kecerdasan jalanan yang tak akan pernah bisa diperoleh oleh para lulusan S1 dan bahkan S2 dari ruang kuliah yang acap “berjarak dengan realitas”.
Street smart yang mereka dapatkan dari jalanan itu pelan-pelan kemudian bisa membuat mereka benar-benar lebih cerdas dibanding lulusan S1 dan bahkan S2; meski cuma lulusan SMP.
Anak lulusan SMP yang langsung berjualan gerobak soto Lamongan mungkin bisa lebih cerdas tentang “ilmu pemasaran dan manajemen pelayanan pelanggan” dibanding anak-anak lulusan S1 yang sok belajar teori tentang customer service atau branding strategy (you can see!).
Nah itu 3 alasan mengapa anak lulusan SMP dan SMA jauh bisa lebih sukses dibandingkan dengan anak lulusan S1 ataupun S2 yang notabene anak lulusan S1 atau S2 juga banyak berfikir sedikit bertindak jadi no action ya tidak dapat menghasilkan apa – apa, selamat berfikir untuk para lulusan S1 atau S2 yang masih saja banyak berfikir untuk bisa berbisnis dan Anda malah kalah jauh dengan para lulusan SMP dan SMA yang sukses secara bisnis dan mereka memiliiki kekayaan yang berlimpah…..selamat bertindak saudara – saudara.

mental-miskin

Nah kalau kita kaitkan dengan psikologi positif atau Positive happiness mindset bahwa ‘’If you cand dream it, you can achieve it’’ yaitu pentingnya tentang sikap mental positif untuk merajut sejarah kehidupan kita, dan tentang keyakinan tentang pentingnya membangun impian -impian dan imajinasi yang positif tentang masa depan hidup.
Kita harus banyak melakukan tindakan positif (Positive action) dibandingkan dengan mengeluh tentang sulitnya pekerjaan kita, suasana dikantor yang sangat tidak kondusif, nasib kita yang terus termehek – mehek, tentang lingkungan yang negative sebaiknya saran saya kita harus bergaul dengan orang – orang yang memiliki semangat untuk terus hidup dan mengejar mimpi dengan sebuah tindakan yang real, daripada kita sibuk untuk memikirkan yang negatif, lebih banyak untuk menvisualisasikan masa depan yang penuh sukses, banyakin rasa syukur tentang hidup kita yang masih diberikan nafas, banyak – banyak kita memberi kepada orang – orang yang kurang beruntung dibawah kita sehingga kita bisa belajar untuk selalu bersyukur dan positif mindset sehingga menghasilkan tindakan yang positif.
Jadi hal yang pertama yang harus dilakukan adalah:
a. Hindari bacaan berita, tontonan televisi atau apapun berita di internet tentang berita negative, dan percaya atau tidak teman – teman, itu justru akan merusaka otak kita dan masuk ke dalam alam bawah sadar kita, dan akan mempengaruhi kepada tindakan kita menjadi negative, shut down berita – berita yang tidak bermutu tadi dengan tindakan atau melakukan kegiatan positif yang lebih produktif dan powerfull untuk merubah nasib Anda, akan lebih baik apabila kita meningkatkan skills, atau melakukan bisnis sampingan yang menambah income Anda yang barokah.
b. Bergaulah dengan orang – orang yang memiliki positive mindset dan attitude itu akan menularkan Anda menjadi pribadi yang memiliki daya risilence (daya juang) yang penuh dengan semangat.
c. Lakukan olahraga dan asahlah gergaji Anda (rajin belajar) Karena pada hakikatnya tubuh kita harus bergerak agar kita bisa sehat, Karena kesehatan adalah kunci Anda untuk melakukan aktifitas dalam meraih mimpi dan action yang penuh liku dan perjuangan, maka dengan terus bergerak daya juang, kreatifitas, dan endurance (daya tahan) akan terjaga. Jangan lupa juga untuk menyempatkan terus belajar (asahlah gergaji anda menurut ‘’steven covey dalam 7 habbit for the highly effective people’’), dengan membaca artikel/buku yang mendukung mimpi Anda/tujuan hidup Anda, justru malah akan menambah ide, kretaifitas, dan dapat mengevaluasi dari setiap perilaku dan tindakan Anda dalam memcapai tujuan hidup Anda.
Apabila kita kaitkan dengan ranah psikologi positif maka kita dapat, membuat sebuah asumsi bahwa selama ini studi psikologi hanya focus pada memperbaiki kelemahan kita, banyak teori manajemen perubahan mengatakan bahwa dengan berbasis pada Analisa gap masalah, atau bahwa didalam diri kita atau organisasi kita akan banyak sekali kelemahan (weakness) dan problem. Untuk itu kita akan membuat action plan untuk memperbaiki kelemahan/kekurangan kita, agar kedepannya kita bisa lebih baik lagi, tetapi sayanganya banyak individu atau organisasi dengan menggunakan pendekatan tersebut, dengan mudah mendorong kita untuk terjebak dalam negative mindset and culture. Kita menghabiskan energi yang begitu banyak dan melelahkan untuk hanya berkutat pada kekurangan, pada kelemahan, pada problem (masalah) yang seolah-olah tak pernah kunjung selesai.
Pendekatan yang beorientasi pada problem dan weakness based itu dengan mudah juga akan membawa kultur pesimisme dan men-discourage semangat kita atau anggota tim. Kita atau anggota tim pesimis sebab seolah-olah kita memiliki begitu banyak kelemahan, dan organisasi kita penuh dengan problem/masalah. Dalam situasi ini, kita dengan mudah kehilangan inspirasi dan motivasi.
Maka saat ini Martin Seligman, seorang psikolog pakar studi optimisme, memelopori revolusi dalam bidang psikologi melalui gerakan Psikologi Positif. Berlawanan dengan psikologi negatif, sains baru ini mengarahkan perhatiannya pada sisi-positif manusia, mengembangkan potensi-potensi kekuatan dan kebajikan sehingga membuahkan kebahagiaan yang autentik dan berkelanjutan.
Menurut Prof. Seligman, ada tiga cara untuk bahagia:
1. Have a pleasant life (life of enjoyment): Memiliki hidup yang menyenangkan, mendapatkan kenikmatan sebanyak mungkin (cara yang biasa ditempuh oleh kaum hedonis). Namun apabila cara ini yang kita tempuh, hati-hati terjebak dalam hedonic treadmill (semakin kita mencari kenikmatan, semakin kita sulit dipuaskan) dan jebakan habituation (kebosanan karena terlalu banyak). Lebih baik dalam takaran yang pas namun dapat membahagiakan kita.
2. Have a good life (life of engagement): Dalam bahasa aristoteles disebut eudaimonia. Terlibat dalam pekerjaan, hubungan atau kegiatan yang membuat kita mengalami “flow”. Merasa terserap dalam kegiatan itu, seakan2 waktu berhenti bergerak, kita bahkan tidak merasakan apapun, karena sangat “khusyu’”.
3. Have a meaningful life (life of contribution): Memiliki semangat untuk melayani, berkontribusi dan bermanfaat bagi orang lain atau mahluk lain. Menjadi bagian dari organisasi atau kelompok, tradisi atau gerakan tertentu. Merasa hidup memiliki “makna” yang lebih tinggi dan lebih abadi dibanding diri kita sendiri.
Okay teman – teman saya sudah paparkan dan mengkaitkan dengan teori psiologi positif bagaimana caranya untuk terus mengembangkan diri kita kearah kehidupan positif kita dengan memakai sikap dan perilaku kita yang positif, yuk kita bahas kembali bahwa kita tadi harus mampu memvisualisasikan tentang mimpi kita, kemudian harus banyak bersyukur tentang kehidupan kita, dan terakhir adalah buatlah action plan untuk direalisasikan dalam tindakan nyata.
Beragam kisah tentang kesuksesan telah kita bahas diatas, dan masih banyak kisah sukses tentang seseorang yang tadinya berada pada titik nol dan sekarang bermetamorfosis menjadi seseorang yang kaya dan berkelimpahan, mereka mampu memberangkatkan kedua orangtuanya haji dengan gratis, memberikan sedekah/sumbangan untuk membangun masjid, ataupun membangun panti asuhan dan membiayai anak – anak panti asuhan yang banyak kurang beruntung dengan memberikan pendidiklan gratis kepada mereka. Contoh lain adalah selain dua contoh diatas adalah chairil tanjung, seorang pebisnis anak negeri yang mampu membangun kerajaan bisnisnya dimulai dari media transtv, bank mega, dan sekarang sudah menjelma menjadi hokding besar dan chairil tanjung mampu membangun mega mall besar Transmart, trans studio mall bandung dan di makasar. Ini adalah orang – orang yang mampu membentangkan aksi nyata dan tidak hanya keinginan dalam sebuah impian.
Mindset, akhirnya mungkin elemen yang akan menjadi penentu keajaiban hidup, yuk kita bahas lebih mendalam tentang kekuatan mindet ini menjadi lebih ampuh perannya dalam membentuk hidup mapan nan sejahtera;

mental-berkelimpahan

1. Abundance mindset; mindset keberlimpahan adalah juga sejenis mentalitas yang selalu syarat dengan optimisme, harapan positif, dan keyakinan bahwa diujung sana ada janji kesuksesan yang layak kita perjuangkan.
Ingat kawan – kawan dalam buku the secret; ‘’the law of attraction’’ bahwa, apa yang kita pikirkan maka akan ditarik oleh semesta dan akan dikembalikan kepada diri kita, apabila pikiran kita positif melihat sebuah peluang maka lingkungan dan semesta akan menarik energi positif dan mengembalikan energi positif ke dalam diri kita kembali, sebaliknya bahwa apabila kita memiliki pikiran negative maka semesta akan menarik energi negative kita dan akan membalikkan ke dalam diri kita dalam bentuk energi negative, what you think; it’s what you get.
Yuk kita buat mindset kita lebih positif melihat peluang Karena, mindset ini bukan tentang seseorang yang berasal dari keluarga mampu/kaya, mindset ini hanya milik orang – orang yang memiliki ijazah S1 atau S2 oh bukan…., minset keberlimpahan ini hanyalah milik orang – orang yang memiliki keteguhan kuat dan melihat peluang kesuksesan di ujung jalan sana dengan merengkuh perjuangan dengan penuh semangat dan pantang menyerah, dia berjibaku dengan kesulitan, dan membuat seseorang terpelanting, terjatuh, perih dan pilu, kemudian dia bisa bangkit kembali dengan cara yang berbeda maka orang – orang ini bisa disebut sebagai seseorang yang memiliki mental keberlimpahan serta rasa syukur yang tiada henti.

2. Mindset action oriented;
Untuk kedua ini setelah kita memvisualisasikan mimpi kita, yuk tuangkan donk dalam perencanaan yang matang, kemudian dari action plan yang paling penting adalah memulainya, banyak orang yang tidak memiliki kekuatan untuk melakukan langkah pertama dalam setiap rencana masa depannya, hanya sekedar angan – angan belaka. Saya nih memiliki rencana bahwa saya ingin memiliki bisnis ini, kemudian saya bertanya lagi kepada teman saya tersebut, apa yang sudah Anda lakukan untuk mencapai itu ? iya itu mas, yang penting saya punya mimpi dulu mas, masalah nanti menuju kesana kan ada jalannya, yo rak tekan – tekan le…nek gak dibuat action plan (perencanaan) dan kemudia iya dari perencanaan itu di eksekusi donk le…ya nantilah (kata – kata ini) seolah ujug – ujug/tiba – tiba dalam Bahasa jawa istilahnya mengharapkan keberuntungan jatuh dari langit; berharap ada dewi fortuna menghampiri kita, tidak ada le…. didunia ini yang secara kebetulan beruntung tanpa sebelumnya kita sudah melakukan aksi menanam, dalam ilmu sebab -akibat dalam dunia ini secara harafiah dan sudah menjadi hukum alam bahwa apa yang kita tanam maka hal itu yang akan kita tuai, kalau kita menanam biji kebaikan maka kelak kita akan menghasilkan buah yang baik, apabila saat ini kita menanam keburukan maka kelak kita akan mendapatkan buah keburukan dari apa yang kita tanam di masa lalu. So pilihan sekarang ada ditangan Anda ya…he…he…

3. Mindset Resourcefuless
Makna sederhananya : panjang akal. Atau kegigihan untuk secara mandiri menemukan sumber daya yang diperlukan untuk mengubah nasib. resourcefulness adalah elemen paling krusial manakala orang berkeinginan mengubah nasib. Panjang akal. Gigih mencari ilmu secara mandiri meski harus bersusah-payah. Kreatif menemukan sendiri jawaban dan solusinya.
Ada banyak orang yang bertanya kepada saya, mas kok bisa ya mas sekarang berpindah – pindah perusahaan dan diterima, padahal mencari pekerjaan itu susah dijaman sekarang, dan gimana mas caranya ? aduch ini orang di era sekarang ini, dengan sarana google dan internet yang sangat mudah mencari informasi, di google atau youtube yang paling mudah dech mencari tahu caranya melakukan bisnis ternak lele, akan sangat mudah kita peroleh apalagi sekedar mencari agen head hunte untuk bisa berpindah pekerjaan dan tentunya dengan catatan ya guys diperusahaan lama sebelumnya Anda memiliki prestasi kerja yang sangat wow dan cetar membahana, dan Anda tidak memiliki masalah dengan perusahaan sebelumnya…. bisnis ternak lele saja ada kok infonya di Internet atau google, lha apalagi disana tersedia info yang lainnya sesuai dengan kebutuhan kita, tinggal kita tekun tidak mencari kata kuncinya.
Atau saya berfikir bahwa orang yang bertanya dengan pertanyaan tersebut adalah orang yang IQnya dibawah rata – rata kali ya (he..he…maap ini agak geram guys) atau bisa Anda menemukan sendiri mentor bisnis atau bisa mencari orang untuk menjadikan coach bagi Anda yang sangat dapat menilai Anda dengan jujur dan merubah Anda kearah yang lebih baik.
Positive Mindset. Action Oriented. Resourcefulness. Inilah sejatinya tiga elemen esensial untuk melukis dan mengubah garis nasib dan kehidupan kita di masa mendatang. Selamat berjuang kawan – kawan merubah nasib Anda semuanya, sehingga kita menjadi insan – insan pejuang yang mampu menegakkan kehidupan dan nasib kita yang penuh dengan kesuksesan dunia akhirat, dan bukan kata – kata nyinyir, ‘’buat apa tho mas kaya – kaya, toh kekayaan tidak akan kita bawa mati’’, nah statement ini saya kurang setuju, langsung saya balikkan, bukannya dengan kekayaan kita yang barokah dan melimpah kita bisa memiliki modal yang nanti kelak akan memberikan pahala yang mengalir di akhirat kelak, contoh bayangkan kalau Anda mampu membuatkan sekolahan gratis dan membangun sarana prasarana serta gedungnya, bukankah selama sekolahan ini digunakan untuk kebermanfaatan untuk banyak anak – anak yang kurang mampu dan beruntung untuk sekolah maka selama itu pula pahala yang melimpah ruah akan kita bawa sampai kita mati dan akan menerangi alam akhirat kita, coba pikirkan guys…Think positive. Keep Learning. And just do it.