Bagaimana Membuat Hidup Lebih Realistis Optimis Untuk Menjauhkan Dari Stress

By Gustyana

Realistis Optimis

Apakah kamu sudah paham tentang konsep realistis dan optimis? Kedua hal ini terkadang membingungkan ketika kita menilai kepribadian seseorang. Bahkan, realistis juga bisa menghalangi kita menjadi jiwa yang optimis. Sebenarnya bagaimana sih perbedaan kedua konsep tersebut?

optimis dan realistis adalah sebuah konsep tentang bagaimana memandang atau memaknai suatu hal dalam hidup. Akan tetapi ada perbedaan yang jelas antara kedua ide tersebut. Pertama, seorang yang optimis adalah orang yang gampang beradaptasi dan selalu bahagia. Orang-orang dalam kelompok ini selalu bisa memaknai sisi lain dari kehidupan yang lebih positif.

Anehnya, orang yang berjiwa optimis terkadang dipandang sebagai orang yang naïf. Selain itu orang optimis juga gampang dipengaruhi. Di sisi lain, orang optimis juga sering mengharapkan hal yang ideal akan terjadi karena pemikirannya terlalu positif. Akan tetapi, orang optimis juga bisa kehilangan harapan meski mereka percaya bahwa harapan positifnya tidak menjadi kenyataan.

Bagaimana dengan orang yang realistis? Mereka adalah orang yang menikmati hal-hal yang terjadi ‘sekarang’. Mereka tidak mengkhawatirkan suatu hal yang akan terjadi besok. Mereka bekerja dan hidup untuk momen sekarang.

Sisi unik dari seorang realistis adalah mereka bekerja keras dalam melakukan sesuatu dan tidak peduli dengan hasilnya. Mereka hanya bekerja semaksimal mungkin.

SEORANG peneliti psikologi meyakini pandangan optimis realistis yang dikombinasikan dengan perspektif rasional terhadap kehidupan seseorang bisa memengaruhi tingkat kesuksesan. Optimis realistis berarti bahwa seseorang yang melihat sisi terang kehidupan dan memiliki pemahaman yang realistis.  
 
The National Taiwan University menemukan studi optimis realistis menggunakan realism mereka untuk tampil baik di tempat kerja maupun dalam menjawab soal ujian. Penelitian ini menunjukkan sikap optimis realistis dan tidak realistis yang memiliki tipe kepribadian yang sangat berbeda.
 
Sophie Chou telah menemukan orang-orang yang memiliki rasa optimis realistis lebih mungkin bahagia dan sukses daripada orang yang pesimis dan memiliki optimis yang liar dan sampaikan pada pertemuan American Psychological Association di Hawai.
 
Sementara penelitian sebelumnya telah menunjukkan nilai pikiran orang optimis yang membuat mereka merasa lebih baik. Dan studi lain menyimpulkan bahwa sikap optimis cenderung berada dalam kondisi kesehatan yang lebih baik dan panjang umur.
 
Studi dari Ms. Chou menantang pemikiran konvensional bahwa seseorang yang memiliki pandangan yang hanya realistis sama akan berjalan dengan tingkat depresi yang tinggi. Sebaliknya jika seseorang menunjukkan sifat optimis realistis, mereka adalah orang-orang yang bahagia.
 
Ms. Chou berpikir yang terjadi pada seseorang yang memiliki jiwa optimis realistis percaya memiliki kontrol atas diri sendiri dan nasib mereka, termasuk dalam hubungan dan pekerjaan.
 
“Setiap kali mereka menghadapi masalah atau tantangan, mereka tidak akan mengatakannya,” tutur Ms. Chou. “Mereka akan lebih kreatif dalam memecahkan suatu masalah karena memiliki rencana b dan c untuk menghadapi masalah,” tambah Ms. Chou.

 Siapa saja boleh bersikap optimis. Termasuk rakyat. Kondektur bus kota berhak optimis kalau suatu hari kelak nasibnya pasti berubah setelah menjadi pilot pesawat tempur. Tukang sablon boleh optimis jika suatu hari kelak dia akan memiliki percetakan yang besar lengkap dengan anak perusahaannya. Namun rasa optimis harus bisa melihat, mendengar, dan menilai dari kelebihan dan kelemahan dari internal seseorang, kemudian dengan melihat peluang yang ada di luar lakukanlah penilaian dengan jujur, mana mungkin seorang supir bus kota ingin menjadi seorang Pilot Pesawat tempur terlalu jauh kompetensi, skill, knowledge untuk mengupgradenya, kalau memungkinkan dia memiliki pengalaman menjadi supir bis kota kemudian bercita – cita untuk memiliki bisnis angkutan kota karena telah mengetahui seluk beluk bisnisnya itu masuk akal saja dan realistis saja, Tukang sablon yang sudah bertahun – tahun menjalani profesinya dan ahli dibidang tersebut sehingga dia menguasai seluk beluk bisnisnya sangat dalam bisa saja kelak menjadi pengusaha percetakan besar.

Optimis, pesimis, dan realistis adalah tiga kata yang berbeda, namun dengan akhiran yang sama dalam pengucapannya. Optimis, Pesimis dan Realistis, ketiganya merupakan sebuah sikap dalam menghadapi suatu hal atau bahkan rencana besar. Seseorang akan cenderung optimis dengan rencananya ketika ia yakin ia mempunyai sesuatu untuk mewujudkannya, tetapi disisi lain ada orang yang pesimis akan suatu hal, entah karena keterbatasannya atau karena hal lain. Namun keduanya ada pengukurnya, pengukur suatu harapan, suatu rencana dan suatu impian, ialah bernama “realistis”.

Kembali lagi pada akhir yang sama, apakah dengan akhir pengucapan yang sama juga berarti suatu rencana baik itu dengan pesimis atau pun optimis akan menghasilkan akhir cerita yang sama, tentu jawabannya tidak. Entah dengan pesimis, entah dengan optimis, dan atau pun dengan realistis, mungkin itu hanya cara kita menghadapi sesuatu. 

Sekarang bagaimana jika kita gabungkan antara realistis dan optimis, atau antara pesimis dan realistis? Seringkali kita tidak tau apakah kita pesimis atau kah kita realistis. Kalau menurut pandangan saya, realistis adalah ketika kita benar-benar menimbang dan memikirkan segala sesuatu kemungkinan hal yang akan terjadi jika kita melakukan suatu hal, sedangkan pesimis saya artikan ketika kita belum memikirkan segala kemungkinan itu lalu kita merasa hal itu tidak mungkin terjadi atau tercapai. 

Kembali ke realistis, realistis pada akhirnya akan membawa dua hasil, yaitu antara pesimis atau optimis. Tapi seringkali hasil dari berfikir realistis akan membawa kepada keputusan yang cenderung ke pesimis, tentunya karena seorang manusia yang dikodratkan untuk tidak sombong, tidak takabur dan lain sebagainya. Namun saya sendiri juga kadang bingung, apakah yang saya pikirkan adalah realistis, atau malah justru rasa pesimis.

Rasa optimis memang bagus, tetapi seringkali rasa optimis yang tidak didasari pemikiran yang realistis akan berakibat pada kekecewaan atau kekalahan. Tapi apakah disini pesimis itu selalu buruk?? Kalau menurut saya tidak, karena bagaimanapun hebatnya kita, kita mempunyai kekurangan dalam beberapa hal, dan yang menyadarkan kita adalah rasa realistis itu. Dan kekurangan itu akan diingatkan oleh rasa pesimis, agar kita membatasi diri akan suatu hal yang tidak mungkin kita capai. 

Jadi kalau saya berkesimpulan, optimis, realistis dan pesimis semuanya bagus, hanya saja bagaimana kita menggunakannya untuk berbagai situasi, kapan harus optimis, kapan harus pesimis, dan kapan kita harus realistis. Tujuannya kembali untuk kebaikan diri kita, kita butuh rasa optimis ketika hal itu memang mungkin untuk kita dapatkan atau kita capai, dan optimislah sebagai penyemangat. Sedangkan kita butuh pesimis sebagai batasan tindakan kita, untuk menjaga diri kita dari kekecewaan atau depresi yang besar. Dan disni juga ada realistis, sesuatu yang dengan analisisnya menuntun diri kita untuk memutuskan suatu hal berdasarkan perhitungan yang matang. 

Tapi tentu saja kita harus merasakan ketiganya, dan sudah seharusnya mengutamakan optimis, karena optimis akan memberikan keberanian, sekalipun terdapat kegagalan di depan, kita akan mendapat guru baru yang bernama “Profesor Gagal”, ialah guru yang sering kali dibenci, karena cara mengajarnya yang keras dan tegas

Optimistis realistis akan membuat seseorang menyadari adanya kemungkinan gagal. Tidak seperti optimistis idealis yang selalu berpikir bahwa mereka akan berhasil. Hal inilah yang membuat orang optimistis realistis lebih mempunyai rencana yang matang dan strategi yang kuat jika mereka menghadapi kegagalan.

Realistis

Ada 10 Cara untuk meningkatkan Optimisme Dalam Hidup Kita;
Sikap optimis melahirkan banyak manfaat. Orang yang optimistis diketahui memiliki kemampuan mengendalikan stres lebih baik sehingga lebih rendah terserang stroke dibanding rekan-rekan mereka yang kurang optimistis.

Memiliki sikap optimistis memang mudah diucapkan tapi sulit untuk dilakukan. David Mezzapelle, penulis buku Contagious Optimism, berbagi 10 tip untuk hidup lebih optimistis, sebagaimana dilansir dalam situs The Huffington Post, Jumat, 31 Mei 2013. Berikut adalah paparannya:

1. Bersyukur
Bersyukurlah atas apapun yang Anda dapatkan. Tidak hanya bersyukur pada rezeki, kebahagiaan, dan kenyamanan hidup, tetapi juga bersyukur saat diberi hambatan dan kegagalan. Hal itulah yang akan mengasah kebijaksanaan manusia. Itu pulalah yang mengajarkan manusia cara bertahan dan berusaha.

2. Berbagi
Berbagi cerita kepada orang lain, baik cerita keberhasilan maupun cerita kegagalan. Berbagi cerita akan membuat kita menyadari bahwa kita tidak sendiri dalam perahu kehidupan ini. Itu pula yang akan menjadi ajang saling menguatkan dan memberi harapan.
 
3.Memaafkan
Memaafkan memang tidak mudah, namun akan menghalangi ganjalan pada langkah Anda meraih masa depan. Lupakan kesalahan masa lalu dan buka kehidupan yang lebih positif dan bahagia.

4. Jadi pendengar yang (lebih) baik
Mendengar yang tak hanya sekadar mendengar, tapi juga menyimak dan menelaah untuk mengambil lebih banyak pengetahuan. Pengetahuan dan keyakinan adalah bukti bahwa Anda aman dan positif dengan diri sendiri, sehingga memancarkan energi positif juga.

5. Ubah rasa iri menjadi energi
Iri atas prestasi orang lain hanya akan menyakiti diri sendiri. Jadikan rasa iri sebagai cambukan bagi Anda. Yakinkan diri bahwa Anda juga bisa melakukan yang orang lain bisa lakukan.

6. Perbanyak senyum, kurangi masam
Tersenyum tidak hanya merangsang orang di sekitar kita untuk ikut tersenyum. Tersenyum juga akan merangsang hormom serotonin (hormon bahagia) yang akan menemani Anda melewati hari terberat sekalipun.

7. Olahraga, diet sehat, dan konsumsi Vitamin D
Ini mungkin saran umum, tapi kita semua membutuhkan beberapa bentuk olahrahga ringan dan paparan sinar matahari setiap hari. Jika Anda kurang mendapat sinar matahari, konsultasikan ke dokter Anda, barangkali Anda membutuhkan terapi sinar atau suplemen vitamin D. Jangan lupa, imbangi dengan asupan makanan sehat setiap hari. Energi yang kita dapatkan dari olahraga, diet sehat, dan paparan cahaya akan memberikan kita sikap alami yang positif. ”

8. Berpikir maju
Memiliki visi ke depan akan memberikan Anda bayangan untuk menemukan cahaya di setiap awan kesulitan. Yakinlah bahwa hari esok akan selalu lebih baik dari hari ini.

9. Berhenti menyalahkan orang lain
Seringkali kita menyalahkan orang lain jika kita mendapatkan posisi yang tidak menguntungkan. Kita menggerutu soal ekonomi, politik, atasan kita, dan pihak lain dalam masalah kita. Pada kenyataannya, Andalah yang mengontrol diri Anda sendiri. Jika Anda sudah meyakini hal itu maka keoptimisan dalam meraih kesuksesan akan datang dengan sendirinya.

10. Pahami, masa lalu bukanlah catatan hitam untuk meraih masa depan
Kegagalan saat ini bukan berarti kegagalan masa depan. Jangan jadikan kegagalan masa lalu sebagai sandungan untuk Anda melangkah ke depan. Justru, kegagalan masa lalu adalah pembelajaran untuk meraih kesukesan di masa mendatang.