Akan Terjadi Pengangguran di Kota Besar Indonesia Mengerikan, SImak?

By Gustyana

Kenaikan UMP yang sangat begitu tinggi yang terjadi di setiap kota, atau UMP istilahnya (Upah Minimum Provinsi).  Kenaikan UMP ini sendiri sebenarnya menciptakan boomerang bagi penyediaan lapangan pekerjaan yang amat dibutuhkan bagi mereka yang mengganggur.

Dengan peluang kerja yang makin menipis, para lulusan SMK/D3 akan semakin sulit mendapatkan pekerjaan, karena peluang kerja akan semakin menipis, masa depan akan semakin kelam.

Kenapa kebijakan UMK ini justru akan meninggalkan sisi kelam para pemilik pabrik untuk enggan berinvestasi di Indonesia.

Jawabannya simple guys, sebab para investor/pemilik pabrik ini enggan membuka pabrik di kota – kota dengan UMK yang sangat tinggi, karena biaya operational head costnya mereka menjadi tinggi. Dan akhirnya mereka akan memindahkan pabriknya ke kota/negara yang kebijakan upah yang flesibel dan murah guys.

Mingkin bisa juga menggantikan posisi tenaga kerja mereka dengan robot/tenaga mesin yang lebih canggih karena dianggap lebih efektif dan efisien.

Atau pilihan lain lagi seperti ini guys, bisa juga opsi terakhir ini, para investor enggan membuka pabrik di Indonesia dimana kebijakan UMKnya sangat kaku dan tidak flexibel.

Akibatnya apa dengan kenaikan UMK ini ?

  1. Bagi para pencari kerja yang masih mengganggur & memberikan efek negatif karena peluang kerja akan semakin menipis, dan mereka akan semakin mengganggur.
  2. UMK dari sisi pekerja memang sangat menguntungkan, karena apa? Ya jelas memberikan kepastian kenaikan upah bagi mereka yang saat ini bekerja. Namun sisi lain sebagai pisau bermata dua guys, ya karena telah melenyapkan ribuan peluang kerja, dan sangat sungguh tidak adilkan justru sangat merugikan bagi calon pencari kerja yang masih menganggur dan sangat membutuhkan pekerjaan.

Jadi kesimpulannya adalah UMK yang kaku dan makin mahal -> membuat pemilik usaha/pabrik->enggan untuk investasi dan mendirikan pabrik di Indonesia ->jadinya yo kesempatan kerja semakin menipis -> meleyapkan peluang kerja bagi para pencari kerja (freshgraduate)-> membuat angka pengangguran makin meningkat.

So jadi solusinya apa ya ?

Saya juga bingung menjadi sebuah dilemma dengan sangat puyeng dan seperti ayam dan telor (mumet gak ntu) memang iya bro sist, coba ya kita uraikan satu persatu ini.

Apabila teman – teman ingat mengenai prinsip supply  demand, kalo kita melihat dari kasus ini bahwa dari lulusan yang tiap tahunnya saja membludak (sisi supply) sedangkan kebutuhan tenaga kerja sedikit (demandnya) coba bayangkan siap – siap saja banyak yang akan menjadi pengangguran.

Pasar tenaga kerja di Indonesia sejatinya adalah tipe pasar dengan kondisi pasokan tenaga kerja melimpah, namun demand (peluang pekerjaan) terbatas. Sesuai dengan hukum ekonomi, harusnya upah mengikuti hukum Supply vs Demand ini. Artinya kalau pasokan melimpah, sedangkan demand terbatas, maka harusnya harga (atau upah) tidak bisa terlalu tinggi. Kalau dipaksakan tinggi, artinya melawan hukum  ekonomi.

Nah kebijakan UMK yang kaku melabrak hukum ekonomi itu. Prinsip  supply and demand diabaikan. Kebijakan UMK secara sepihak menetapkan harga (upah) tanpa melihat kondisi supply and demand.

Itulah kenapa pemilik uang/pemodal/investor makin enggan membuka pabrik atau lapangan kerja baru di kota dengan UMK yang makin mahal, sebab hukum supply and demand telah dilanggar.

Akibatnya sekali lagi kelam : peluang kerja di kota tersebut makin menipis, dan lalu meningkatkan angka pengangguran di wilayah tersebut. Dalam jangka panjang, pertumbuhan ekonomi kota atau wilayah ini justru akan mandek sebab angka pengangguran tinggi

Jika fenomena itu terjadi secara nasional, maka dampaknya juga sangat muram : angka pengangguran di tanah air pelan-pelan akan meningkat, dan pertumbuhan ekonomi akan stagnan.

Dengan muramnya kondisi inii, belom lagi melihat fenomena hukum uang bahwa setiap tahun harus meningkat infkasi menjadikan harga – harga semakin mahal dan daya beli masyaraat rendah, dan memang biaya hidup ini semakin mahal. Saya pun jujur dilemma bagaimana solusi menanggapi ini, semua, mungkin dengan tulisan ini akan menghasilkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk mengubah kebijakan ini mungkin saja, kenikan UMP bisa sedikit diperlonggar dan tidak kaku, bahkan menurut saya dihapuskan. Tapi entahlah fenomena ini saya meihatnya semakin mengerikan semoga saja ada solusinya, dilemma yang memang pelik guys.

Yuk ngopi dlu guys, pagi – pagi saya sudah membuat artikel yang pelik, selamat bekerja dan berkarya.